Rhenald Kasali Membedah Fenomena Disrupted Era, dan Menunjukkan Solusinya

24 November 2017 08:00:22 WIB | dikirim oleh : Administrator
DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

Rhenald Kasali Membedah Fenomena Disrupted Era, dan Menunjukkan Solusinya

KOMINFO KEBUMEN - Di forum  yang bertajuk The Economic Esteem,  Prof. Rhenald Kasali membedah fenomena disrupted era, dan menunjukkan solusinya. Ceramah ilmiah itu, merupakan rangkaian kegiatan SAIK 2017 Palembang, di hari ke dua, Kamis (23/12).

Bertempat di Ballroom Hotel Novotel Palembang, Founder Rumah Perubahan sekaligus juga Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menunjukkan adanya fenomena 'disruption''. Disruption menurut Rhenald merupakan  proses perubahan. Ia menyebutnya telah terjadi revolusi  dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat saat ini.

Perubahan itu, menurut Rhenald, dimotori oleh perkembangan teknologi informasi. Ia menyebutkan bahwa kini masyarakat berada dalam gelombang ketiga perubahan yang dipengaruhi terutama oleh teknologi informasi.


Bagaimana realitanya?

Dalam gelombang disruption ini, Rhenald menegaskan, masyarakat tengah menutup sebuah zaman. Bukan akhir zaman sebagaimana diramalkan oleh banyak orang, melainkan hanya mengakhiri sebuah zaman dan memulai zaman yang baru. Sebuah zaman yang menjadi tantangan besar bagi para perusahaan incumbent besar bereputasi yang selama ini berdiri kokoh.

Kompetitor yang ada saat ini adalah kompetitor yang tak kelihatan. Misalnya perusahaan-perusahaan taksi yang memiliki kompetitor taksi online yang tak memiliki gambaran fisik taksi sebagaimana lazimnya. Begitu juga dengan aplikasi online ojek yang mendistrupsi ojek konvensional.


Solusi keluarnya?

Solusi keluarnya menurut Rhenald, jika usahawan, regulator dan politisi sering mengabaikan apalagi tidak paham perkembangan teknologi, maka dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan perekonomian negara. 'Padahal, kini dunia tengah berada dalam era disrupsi,' imbuh Profesor.

Dalam gelombang disrupsi ini, orang-orang yang terperangkap dalam tradisi akan merasa cemas dan gugup dalam menghadapi perkembangan dunia. Tradisi memang baik namun, kata Rhenald, tradisi juga perlu diperbaharui.(admin/ca).