Bupati Kebumen: "Putus Mata Rantai Penyebaran Tuberkulosis"

Tuesday, 19 September 2017 / Daerah

KEBUMENKAB.GO.ID - Bupati Kebumen Ir.HM.Yahya Fuad SE dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten dua, Ir.Tri Haryono menegaskan agar segera memutus mata rantai penyebaran penyakit tuberkulosis di Kabupaten Kebumen. Pasalnya, penyakit tersebut berdampak pada keterpurukan sosial ekonomi masyarakat. Hal ini terungkap dalam kegiatan advokasi rencana aksi daerah penanggulangan tuberkulosis yang dihelat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kebumen di hotel Candisari Karanganyar, Selasa (19/9).

"Pada tahun 2016, jumlah penderita penyakit tuberkulosis di Kabupaten Kebumen mencapai 1576 orang, dan 828 orang diantaranya adalah penderita laki-laki usia produktif. Hal ini akan sangat berdampak buruk bagi kehidupan perekonomian keluarga itu sendiri, mengingat laki-laki adalah tulang punggung bagi keluarganya," ungkap Ir.Tri Haryono.

Apalagi, tambah Tri Haryono, penyakit tuberkulosis ini membutuhkan waktu yang cukup lama dalam penyembuhannya. Untuk kasus tuberkulosis biasa butuh penanganan penyembuhan minimal enam bulan. Sedangkan untuk tuberkulosis resisten butuh penanganan hingga 2 tahun. "Untuk itu sebelum terjadi penyebaran yang makin meluas, Bupati meminta untuk diputus mata rantainya. Salah satu caranya adalah menemukan sejak dini penderita-penderita yang diduga mengidap 
tuberkulosis. Hal ini agar cepat dapat penanganan sebelum menularkan kepada orang lain," jelas Ir.Tri Haryono.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kebumen, Tri Anggorowati SKM,M.Si mengatakan kepada jajaran dinas kesehatan untuk terus meningkatkan penelusuran ke desa-desa untuk menemukan warga yang diduga menderita tuberkulosis. "Kepada masyarakat kami minta untuk mendatangi pos-pos layanan kesehatan jika dalam kurun waktu dua minggu mengalami batuk-batuk dan tak kunjung sembuh agar mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan," harap Tri Anggorowati SKM,M.Si.

Selain itu, Tri Anggorowati juga meminta kepada instansi terkait lainnya untuk mendukung penuh dalam penanganan penyebaran penyakit ini. "Karena dampaknya bukan hanya dari sisi medis, akan tetapi juga pada sisi sosial ekonomi. Dalam kehidupan sosial bisa terkucilkan, dalam kehidupan ekonomi dapat mengalami kemiskinan. Tentu saja kita tak menginginkan hal ini terjadi pada masyarakat kita di Kebumen. Karena itu kegiatan advokasi ini kita undang seluruh jajaran OPD, Camat, UPT dan lainnya untuk duduk secara bersama-sama dalam menangani penyebaran penyakit tuberkulosis ini. Sampai Juni 2017, penderita tuberkulosis yang terdeteksi telah mencapai 810 orang yang kebanyakan laki-laki usia produktif," papar Tri Anggorowati SKM.M.Si mengakhiri. (admin/mn)