Kesabaran, Iman, dan Taqwa di Era Postmodern

05 Januari 2015 17:00:30 WIB / Artikel / Mashun Mukromin Ahmad

strong style="line-height:1.6em">Kesabaran, Iman, dan Taqwa di Era Postmodern

Oleh : Mashun Mukromin A.

 

Era modern sudah berlalu begitu lama, tergantikan dengan era postmodern, dimana dominasi digital tumbuh dan berkembang ke seluruh lapisan masyarakat seperti tahun 2014 ini. Kemajuan teknologi sudah semakintinggidanpesatyang banyak membawa perubahan bagi umat manusia. Hal ini tentu patut diapresiasi oleh kita semua. Tapi, bukan tanpa ada kecacatan, postmodern pun membawa dampak yang negatif dalam berkehidupan.

Dalam postmodern semua aspek/bidang kehidupan berlomba-lomba dalam kemudahan,  kecepatanserta keinstanan. Mulai dari aspek pangan, automotif, digital, TI, dan masih banyak lainya. Hal ini tentu membawa dampak yang luar biasa besar. Sisi baiknya adalah dengan semua kemudahan dan kecepatan dalam segala aspek, manusia menjadi lebih produktif, efektif & efisien dalam beraktifitas, kreatif, inovatif, dan yang paling penting yaitu bisa menaikan taraf hidup, serta masih banyak lainya.

Sedangkan sisi buruknya yaitu dengan kecepatan, kemudahan, serta keinstanan, mayoritas orang pada era postmodern kurang memiliki rasa sabar. Mereka sudah terbiasa dengan segala hal yang bersifat mudah, cepat, serta instan. Inilah salah satu dampak negatif akibat era postmodern. Banyak contoh yang bisa diambil, misal dalam hal digital dan internet. Semua produsen terkait berlomba-lomba menawarkan performa produk yang ditawarkanya, seperti prosesor yang cepat, jaringan internet yang kuat, dan sebagainya. Alhasil, ketika para pengguna mendapati produk yang performanya lelet, si pengguna pun cepat tersulut emosi. Tidak sabar menunggu gadgetnya “berfikir”, loading internet yang lama, pengguna bisa membanting gadgetnya karena rasa tidak sabar itu. Dampak lain yaitu ketidaksabaran tersebut biasanya juga dilampiaskan kepada orang sekitar yang membuat hubungan sosialnya memudar.

Dalam hal pangan, banyak produsen pangan yang menawarkan keinstanan produknya. Makanan instan atau siap saji dalam era postmodern ini lebih banyak diburu. Kebanyakan orang tidak sabar jika menghabiskan banyak waktu hanyauntuk memasak. Tentu hal ini berbeda jauh ketika dibandingkan dengan era tradisional. Mayoritas orang pada masa itu tlaten dan sabar untuk membuat masakan.

Selanjutnya dalam hal otomotif, banyak dari pengguna jalan yang selalu ingin cepat di jalanan.Terutama bagi para pengguna sepeda motor. Banyak dari pengguna jalan yang hanya sekedar ingin cepat tanpa tujuan yang jelas. Tidak jarang dari pengguna jalan seperti ini yang mengabaikan keselamatan, berfikir jangka pendek hanya untuk sekedar cepat sampai. Kendaraan yang cepat lalu diimbangi dengan kepadatan pengguna jalan, maka yang terjadi adalah kecelakaan yang tidak bisa dihindarkan.

Perlu diketahui, bahwa segala hal yang berlebihan itu tidaklah bagus. Seperti yang telah disampaikan diatas, terlalu cepat atau instan juga tidak bagus. Ada baiknya sebagai manusia kita selalu berada pada posisi seimbang. Mengambil jalan tengah, yaitu tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat dalam segala hal. Karena hal ini juga akan melatih kita untuk bersabar.

Menurut Baumandalam buku The Routledge CompanionTo Postmodernismjuga mengkritisi, bahwa seharusnya sebagai manusia yang hidup di era postmodern ini kita bisa menjadi manusia yang bijaksana. Selalu hati-hati dalam tindakan, selalu rendah hati. Juga selalu bisa mempertanggungjawabkanapa yang kita lakukan, harapkan serta apa yang menjadi mimpi kita.Semua perlu perhitungan, tidak bisa jika hanya berfikir sesaat tanpa perencanaan yang jelas.

Disinilah betapa pentingnya peran iman dan taqwa dalam kehidupan era postmodern. Iman dan taqwa(imtaq) akan menuntun hidup kita di era postmodern ini menjadi lebih biijak. Sebagai manusia, dalam kehidupan seharusnya kita juga memiliki moral dan etika (dalam aspek kehidupan apapun). Tidak berfikir hanya untuk diri sendiri dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Jika seseorang bisa berlaku demikian, maka sifat kesabaran akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya.

Pada era postmodern ini, banyak manusia yang berlaku tergesa-gesa. Orientasi manusia terhadap kehidupan dunia lebih dominan daripada kehidupan di akhirat kelak. Maka yang terjadi manusia hidup dalam ketidakpuasan. Selalu mengejar sesuatu yang lebih tinggi, lebih baik, atau lebih sempurna tanpa diimbangi dengan rasa syukur. Oleh karena itu, imtaq dalam kehidupan era postmodern ini sangatlah penting, yaitu untuk membentengi diri kita dari belenggu kehidupan dunia yang fana. Agar kita sebagai manusia hidup dalam kebijaksanaan.